Budaya politik merupakan bagian dari kehidupan politik. Budaya politik hanyalah
dipandang sebagai kondisi-kondisi yang mewarnai corak kehidupan masyarakat tanpa
memiliki hubungan dengan sistem politik dan struktur politik. Dalam pandangan tersebut,
budaya politik memengaruhi dalam proses-proses politik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mengetahui berbagai macam peristiwa politik.
Bahkan, beberapa di antaranya menjadi bahan perbicangan hangat dan menarik. Salah satunya
adalah penyelesaian masalah Bank Century. Hampir setiap hari, kita dapat menyaksikan
melalui layar televisi rapat Pansus Century di Gedung DPR. Penyelesian kasus Bank Century
melalui jalur politik menjadi topik yang hangat dan menarik untuk diikuti. Kita dapat
mengetahui kinerja para wakil rakyat dalam menyelesaikan kasus yang cukup menghebohkan
tersebut.Dari peristiwa politik yang tersaji melalui media massa, masyarakat dapat memberikan
pendapat, memperoleh tambahan pemahaman dan pengetahuan cara kerja anggota dewan,
dapat menilai kesungguhan para wakil rakyatnya, serta menunjukkan sikap dan perasaan
tertentu. Pendapat, pemahaman, pengetahuan, sikap dan perasaan tersebut merupakan
cerminan budaya politik masyarakat.
1. Konsep Budaya Politik
Konsep budaya politik berpusat pada imajinasi (pikiran dan perasaan) yang membentuk
aspirasi, harapan, preferensi, dan prioritas tertentu dalam menghadapi tantangan yang
ditimbulkan oleh perubahan sosial politik. Masyarakat Indonesia secara sosiokultural
mempunyai pola budaya politik dengan elemen yang pada prinsipnya bersifat dualistis, yang
berkaitan dengan tiga hal, yaitu:
1) Dualisme kebudayaan yang mengutamakan keharmonisan dengan kebudayaan yang
mengutamakan kedinamisan (konfl iktual). Dualisme ini bisa dilihat dalam interaksi
kebudayaan yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Jawa dengan kebudayaan yang dipengaruhi
oleh kebudayaan luar Jawa, terutama Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Sulawesi.2) Dualisme antara budaya dan tradisi yang mengutamakan keleluasaan dengan yang
mengutamakan keterbatasan. Hal ini merupakan pengaruh kemanunggalan militer-sipil
dalam proses sosial politik semenjak Proklamasi sampai dengan Orde Baru.
3) Dualisme implikasi masuknya nilai-nilai Barat ke dalam masyarakat Indonesia.
2. Pengertian Budaya Politik
Budaya politik yang berkembang dalam suatu negara dilatarbelakangi oleh beberapa hal,
seperti situasi, kondisi, dan pendidikan masyarakat. Latar belakang tersebut tentunya terjadi di
sekitar pelaku politik. Mereka dianggap memiliki kewenangan dan kekuasaan dalam membuat
kebijakan. Dengan demikian, budaya politik yang berkembang dalam masyarakat suatu negara
akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Untuk memahami tentang budaya politik, terlebih dahulu harus dipahami tentang
pengertian budaya dan politik. Budaya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu budhayah, bentuk
jamak dari budhi yang artinya akal. Dengan demikian, budaya diartikan sebagai hal-hal yang
berhubungan dengan akal atau budi. Budaya adalah segala yang dihasilkan oleh manusia
berdasarkan kemampuan akalnya. Budaya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) dapat dipelajari,
2) dapat diwariskan dan diteruskan,
3) hidup dalam masyarakat,
4) dikembangkan dan berubah,
5) terintegrasi.
Adapun politik berasal dari bahasa Yunani polis dan teta. Polis berarti kota atau negara
kota, teta berarti urusan. Dengan demikian, politik berarti urusan negara (pemerintahan).
Selain dari arti kata, banyak para ahli yang mengemukakan pendapat tentang politik. Beberapa
pengertian tentang politik yaitu:
a. Mirriam Budiardjo
Politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau negara) yang
menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari suatu sistem dan melaksanakan tujuantujuan
tersebut.
b. Dr. Wirjono Projodikoro, S.H.
Politik adalah penggunaan kekuasaan (macht) oleh suatu golongan anggota masyarakat
terhadap golongan lain.
c. Joyce Mitchell
Politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuat kebijakan umum untuk
masyarakat seluruhnya.
Dari berbagai pengertian tersebut, dapat disimpulkan pengertian dari budaya politik.
Budaya politik adalah aspek politik dari sistem nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat
yang dipengaruhi oleh suasana zaman saat itu dan tingkat pendidikan dari masyarakat itu
sendiri.Banyak ahli yang mengemukakan pengertian budaya politik. Beberapa defi nisi budaya
politik yang disampaikan para ahli antara lain:
a. Gabriel A. Almond dan Sidney Verba
Menurut Almond dan Verba, budaya politik suatu bangsa sebagai distribusi pola-pola
orientasi khusus menuju tujuan politik di antara masyarakat bangsa itu dan tidak lain adalah
pola tingkah laku individu yang berkaitan degan kehidupan politik yang dimengerti oleh para
anggota suatu sistem politik.
b. Austin Ranney
Menurut Austin Ranney, budaya politik adalah seperangkat pandangan tentang politik
dan pemerintahan yang dipegang secara bersama-sama, sebuah pola orientasi terhadap objekobjek
politik.
c. Samuel Beer
Samuel Beer mengemukakan bahwa budaya politik adalah nilai-nilai keyakinan dan
sikap-sikap emosi tentang bagaimana pemerintahan seharusnya dilaksanakan dan tentang apa
yang harus dilakukan oleh pemerintah.
d. Alan R. Ball
Alan R. Ball mengemukakan bahwa budaya politik adalah susunan yang terdiri dari sikap,
kepercayaan, emosi, dan nilai-nilai masyarakat yang berhubungan dengan sistem politik.
Dari beberapa defi nisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan mengenai batasan pengertian
budaya politik, yaitu:
a. Budaya politik tidak mengedepankan perilaku aktual, tetapi perilaku nonaktual. Bentukbentuk
perilaku nonaktual seperti pandangan, orientasi, keyakinan, sikap, emosi,
kepercayaan, dan nilai-nilai yang dihayati para anggota suatu sistem politik.
b. Budaya politik mengorientasikan sistem politik. Terdapat salah satu faktor yang memiliki
arti penting pada pandangan terhadap sistem politik yaitu perasaan (trust) dan pemahaman
(hostility). Perasaan tersebut berwujud kerja sama dan konfl ik yang bermanfat dalam
membentuk kualitas politik.
c. Budaya politik mendeskripsikan warga negara sebagai anggota sistem politik.
Dengan demikian, orientasi warga negara terhadap objek politik, akan memengaruhi
perilaku nonaktual sebagai cerminan budaya politiknya. Budaya politik masyarakat sangat
dipengaruhi oleh struktur politik, sedangkan daya operasi struktur ditentukan oleh konteks
kultural. Dilihat dari sudut pandang rangsangan secara keseluruhan, budaya politik bertujuan
untuk mencapai atau memelihara stabilitas politik yang demokratis.3. Komponen Pandangan Objek Politik
Almond dan Verba mengemukakan bahwa dalam pandangan objek politik terdapat tiga
komponen, yaitu komponen kognitif, komponen orientasi afektif, dan komponen orientasi
evaluatif.
a. Komponen kognitif
Komponen kognitif adalah komponen yang menyangkut pengetahuan bidang politik dan
kepercayaan pada politik peranan dan segala kewajibannya.
b. Komponen orientasi afektif
Komponen orientasi afektif adalah segala perasaan terhadap politik peranannya, para
aktor, dan penampilannya.
c. Komponen orientasi evaluatif
Orientasi evaluatif adalah keputusan dan paradigma tentang objek politik yang secara
tipikal melibatkan kombinasi standar nilai dan kriteria dengan informasi dan perasaan.
Menurut Almond dan Verba, untuk mengukur sikap individu dan masyarakat dalam sistem
politik dapat digunakan ketiga komponen orientasi tersebut. Sementara dalam komponen
evaluatif orientasi politik seseorang, ditentukan oleh orientasi moral. Norma-norma yang
dianut seseorang warga negara menjadi dasar bagi sikap dan perannya terhadap sistem politik.
Sedangkan orientasi evaluatif berkaitan erat dengan evolusi normatif, moral politik, dan etika
politik 4. Peranan Individu dalam Sistem Politik
Sistem politik modern merupakan satu hal yang sangat kompleks. Politik bukanlah
suatu bentuk ekspresi dan aktualisasi kemampuan pribadi seseorang melainkan sesuatu
yang didukung konsep serta gagasan-gagasan warga negara atau anggota masyarakat secara
konsekuen.
Seorang politikus dalam suatu waktu memiliki peranan ganda. Misalnya, ia berperan
sebagai anggota parlemen atau kabinet, sekaligus sebagai pemimpin partai politik atau
organisasi kemasyarakatan. Dengan posisi tersebut dalam menjalankan peranan yang satu
sering bertentangan dengan norma dan aturan yang melekat dalam peran yang lain. Untuk itulah diperlukan kehati-hatian dalam mengungkapkan suatu pendapat, usulan, maupun gagasan.
Kapan waktunya ia berperan sebagai anggota parlemen dan kapan ia berperan sebagai pemimpin
partai.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan pentingnya pemisahan peranan (role
diferentiation) dalam situasi tertentu. Sikap kehati-hatian dalam membedakan peranan
politik itu dapat dikatakan sebagai salah satu interaksi budaya politik. Untuk melihat peranan
individu-individu dalam sistem politik, Almond dan Verba membedakan ke dalam golongan
subjek, yaitu:
a. subjek pertama adalah struktur khusus seperti badan legislatif, eksekutif, dan birokrasi,
b. penunjang jabatan seperti pemimpin monarki, legislator, dan administrator,
c. kebijaksanaan, keputusan, dan penguatan keputusan.
Orientasi individual terhadap kehidupan politik dipengaruhi oleh orientasi seseorang
secara terbuka terhadap hal-hal sebagai berikut:
a. pengetahuan yang dimiliki tentang negara dan sistem politiknya dalam pengertian
umum,
b. perasaan seseorang tentang terhadap struktur dan peranan elit politik dan penganjurpenganjur
kebijakan,
c. perasaan seseorang tentang struktur-struktur individu, keputusan-keputusan yang
dilibatkan dalam seluruh rangkaian proses tersebut, bagaimana perasaan dan pendapatnya
terhadap hal itu,
d. perasaan seseorang sebagai anggota sistem politik yang berkaitan dengan hak,
kekuasaannya, kewajibannya, dan strateginya untuk dapat memasuki kelompok orangorang
yang memiliki pengaruh,
e. penilaian seseorang terhadap norma-norma berpolitik.
0 komentar