Setiap aktivitas yang dilakukan dengan
menggunakan tata cara atau
menghormati etika yang berlaku, akan
memberikan kesan yang positif bagi
orang lain yang terlibat. Sama halnya
dengan negosiasi, para negosiator
diwajibkan untuk berperilaku sesuai
dengan etika, sehingga proses negosiasi
yang berjalan dapat efektif serta
terintegrasi. Pada pembahasan minggu
ini, penulis mencoba menjelaskan etika
bernegosiasi yang ditinjau dari aspek
persuasi, komunikasi, informasi,
maupunbahasa yang digunakan oleh
para negosiator. Etika secara luas
digunakan dalam standar sosial untuk
menentukan apa yang benar dan salah
dalam situasi tertentu, atau proses untuk
menetapkan standar-standar tersebut
(Lewicki 2012, 312).
Diawali dengan gaya persuasif
yang digunakan oleh para negosiator
juga turut mempengaruhi negosiasi,
karena gaya persuasi tersebut berkaitan
dengan bagaimana cara negosiator
menyampaikan pesan. Singkatnya,
negosiator perlu berhati-hati
dalammembangun pesan untuk
mempengaruhi pihak lain. Crano dan
Prislin (2006) seperti yang dikutip oleh
Lewicki (2012), mengatakan dengan
mengasumsikan bahwa target pengaruh
termotivasi dan mampu memperhatikan
daya tarik persuasif, maka pesan-pesan
yang beralasan kuat, berdasarkan bukti
dan logis akan mampu memberikan
pangaruh. Gaya penyampaian seorang
negosiator berperan andil dalam
negosiasi, karena ialah kunci dari
keberhasilan negosiasi dan merupakan
cerminan dari negara asal mana ia
dikirimkan, apabila negosiasi yang
berlangsung standar internasional.
Faktor lainnya yang menjadi penentu
etika negosiasi adalah peran
komunikasi. Berbagai saluran
komunikasi, seperti kesempatan bagi
kedua pihak untuk berkomunikasi di
luar negosiasi-negosiasi formal, akan
membantu negosiator mengklarifikasi
komunikasi formal atau bertukar
informasi jika saluran-saluran formal
terganggu (Lewicki 2012, 122). Setiap
negosiator diwajibkan pula untuk
memahami komunikasi yang terjadi
dalam negosiasi, karena sering kali bagi
anggota-anggota lain dalam tim
negosiasi mengenali keambiguan dan
kemacetan dalam komunikasi.
Keambiguan komunikasi dalam
negosiasi dalam mengirimkan pesan-
pesan yang tidak jelas selama negosiasi
dapat membingungkan pihak lain, dan
seburuk-burukya mengancam pihak lain.
oelh karena itu, peran komunikasi dalam
etika negosiasi sangat nutuh perhatian
dan keahlian bagi masing-masing
negosiator.
Informasi menjadi kumpulan
data yang dibutuhkan dalam setiap
negosiasi, karenanya informasi yang
dibutuhkan harus akurat dan dapat
dipertanggugjawabkan. Pertukaran
informasi yang efektif mendorong
pengembangan solusi negosiasi yang
baik. Supaya pertukaran informasi yang
diperlukan dapat terjadi, para negosiator
harus bersedia untuk mengungkap
tujuan mereka sebenarnya dan
mendengarkan satu sama lain secara
saksama. Bagi Lewicki (2012),
menciptakan arud informasi yang bebas
termasuk membuat kedua belah pihak
mengetahui berbagai alternatif yang
diperlukan. Negosiator yang tidak
mengungkapkan adanya alternatif yang
baik mendapatkan keuntungan untuk
dirinya sendiri, tetapi para negosiator
yang berbagi informasi solusi alternatif
mendapatkan keuntungan tambahan.
Tersedianya informasi dalam negosiasi
tidak cukup untuk mewujudkan
negosiasi yang beretika, dimana bahasa
juga menjadi kemampuan lain yang
wajib dimiliki bagi setiap negosiator.
Bagi Lewicki (2012) pertimbangan
kejelasan dan intensitas bahasa sangat
diperhatikan dalam setiap negosiasi,
karena dapat memberikan dampak besar
terhadap persuasinya. Bahasa yang
digunakan dalam negosiasi haruslah
mengunakan bahasa yang resmi, sangat
dilarang keras bagi para negosiator
untuk menggunakan bahasa sehari-hari
dalam mencari keputusan negosiasi.
Sebagai contoh organisasi internasional
PBB mengatur penggunaan bahasa resmi
yang digunakan untuk komunikasi bagi
setiap anggota. Bahasa Inggris
contohnya, merupakan bahasa wajib
bagi setiap sidang maupun konferesi
yang dilakukan setiap negara dalam
PBB.
Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, etika adalah suatu standar
sosial yang menentukan benar atau
salahnya suatu tindakan. Tujuan adanya
etika adalah untuk membedakan
kriteria, atau standar, yang berbeda
untuk menilai dan mengevaluasi
tindakan-tindakan negosiator dalam
bernegosiasi (Lewicki 2012, 312).
Pelaksanaan negosiasi yang berjalan
dengan benar dan sesuai etika maka
akan memperlancar proses negosiasi
tersebut pada masa yang akan datang
apabila melakukannya dengan pihak
yang sana. Sebagai contoh mudah yang
menjadi cerminan etika negosiasi yaitu,
jenis pakaian yang digunakan dalam
negosiasi apakah baju tersebut termasuk
baju resmi atau tidak. Karena baju atau
pakaian yang digunakan oleh para
negosiator maupun para pejabat tinggi,
memiliki potensi penilaian bagi para
negosiator lain. Tidak hanya
akredibilitas yang dimiliki oleh para
negosiator saja, tetai etika berbusana
juga menjadi etika lainnya yang
dibutuhkan dalam bernegosiasi.
Dalam bernegosiasi hendaknya
kita harus memperhatikan aspek-aspek
etis di dalamnya, sehingga jangan hanya
fokus pada keuntungan jangka pendek
yang terkadang membuat kita
melewatkan aspek etis dalam negosiasi.
Etika memiliki potensi jangka panjang
yang dihasilkan dalam negosiasi, karena
perilaku yang etis mempengaruhi
reputasi seseorang atau negosiator, serta
meberikan dampak besar atau kecilnya
peluang yang dihasilkan dalam
negosiasi.
REFERENSI
Lewicki, Roy J., et.al., 2012. Negosiasi
(terj. M. Yusuf Hamdan, Negotiation, 6th
ed.). Jakarta: Salemba Humanika