TEKNOLOGI INFORMASI
DALAM BIMBINGAN DAN
KONSELING
TINJAUAN TEORETIS
A.Pengertian Teknologi Informasi
Teknologi informasi adalah seperangkat
alat yang membantu anda bekerja
dengan informasi dan melakukan tugas-
tugas yang berhubungan pemrosesan
tertentu (Haag dan Keen, 1996).
Teknologi informasi tidak hanya sebatas
pada teknologi komputer (perangkat
keras dan perangkat lunak) yang
digunakan untuk memproses dan
menyimpan informasi, melainkan juga
mencakup teknologi komunikasi untuk
mengirimkan informasi (Martin, 1999).
Teknologi informasi adalah teknologi
yang menggabungkan komputasi
(komputer) dengan jalur komunikasi
berkecepatan tinggi yang membawa
data, suara, dan video (Williams dan
Sawyer, 2003). Dari ketiga pengertian di
atas, maka pengertian teknologi
informasi dapat disimpulkan bahwa
teknologi informasi adalah gabungan
antara teknologi komputer dan
teknologi telekomunikasi yang
memberikan informasi yang
dibutuhkan oleh individu (brainware).
B.Penggunaan Teknologi Informasi
dalam BK
Penggunaan teknologi informasi
khususnya komputer kini sudah
menjadi mata pelajaran wajib di
sekolah-sekolah, mulai sekolah dasar
hingga ke sekolah lanjutan atas dan
sekolah kejuruan bahkan Perguruan
Tinggi. Namun demikian yang paling
besar pengaruhnya adalah di Perguruan
Tinggi, di mana hampir semua
perguruan tinggi di Indonesia sudah
memanfaatkan teknologi ini dalam
perkuliahannya, baik melalui tatap
muka maupun secara online. Sebagai
contoh seorang dosen dalam
menyampaikan materinya tidak hanya
mengandalkan media konvensional saja,
melainkan sudah menggunakan unsur
teknologi di dalamnya. Biasanya
seorang dosen atau guru di PT tertentu
dalam menyampaikan materi kuliah
ditampilkan dalam bentuk slide
presentasi dengan bantuan komputer.
Dengan teknologi ini mahasiswa atau
siswa bisa mengikuti mata kuliah
dengan baik, karena materi yang
disampaikan selain mengandung materi
yang berbobot juga mengandung unsur
multimedia yang bisa menghibur. Di
mana dengan bantuan komputer yang
dihubungkan dengan multimedia
projector seorang dosen tidak perlu
menekan tombol keyboard atau papan
ketik melainkan cukup menekan remote
control yang dipegangnya.
C.Komponen Sistem Teknologi
Informasi
Sistem Teknologi Informasi adalah
sistem yang terbentuk sehubungan
dengan penggunaan teknologi
informasi. Komponen utama Sistem
Teknologi Informasi yaitu;
1. Hardware (perangkat keras),
2. Software (perangkat lunak),
3. Brainware (orang yang membuat,
menggunakan dan memelihara sistem).
D. Klasifikasi Sistem Teknologi
Informasi
Klasifikasi Menurut Cara Melayani
Permintaan, pada lingkungan yang
memiliki sejumlah komputer yang
saling berhubungan, dikenal dengan
istilah client/server. Server adalah
komputer/software yang bertugas
melayani permintaan komputer yang
berkedudukan sebagai client. Contoh:
web server. Client adalah komputer
yang memanfaatkan layanan yang
disediakan server. Kerena BK adalah
bagian dari pendidikan, maka contoh TI
dalam BK sama dengan contoh TI dalam
pendidikan yaitu pengajaran berbabis
multimedia, edutainment, e-Learning,
dll, yang disesuaikan dengan kebutuhan
yang diperlukan sesuai dengan kode
etik yang berlaku.
Secara lebih teknis Hines, 2003 juga
menawarkan keahlian yang perlu
dikuasi oleh seorang calon konselor
sekolah yang berkaitan dengan
kompetensi teknologi informasi, yaitu :
1.Word Processing / Publication Desktop
untuk menciptakan dokumen layout
menarik
2. Menciptakan laporan berkala visual
menarik, efektif menggunakan grafik,
informasi dan menari
3.Database (dokumentasi siswa) dan
spreedsheet (tabel dan grafik)
4.Presentasi multimedia
5.Sumber daya elektronik dan internet:
a.Membuat, mengirim, menerima email
b.Daftar, mengambil bagian dalam
diskusi elektronik (milis atau
mailinglist)
c.Mencari, menyaring informasi di
internet
d.Mampu menggunakan search engine
e.Mampu ngobrol (chatting)
Meskipun banyak tawaran terhadap
penyiapan penguasaan teknologi
informasi bagi calon konselor, perlu
diingat bahwa komputer dan internet
dalam hal ini hanya merupakan alat
atau sarana, Menjadi menarik apa yang
dikatakan oleh Soemantri (2006) bahwa
meskipun banyak manfaat yang dapat
diambil dari komputer dan internet,
mahasiswa calon konselor perlu
diarahkan untuk memahami proses atau
cara berfikir untuk bekerja
menggunakan komputer secara
maksimal.
Bertolak dari pemahaman bahwa
komputer merupakan alat bantu untuk
mempresentasikan informasi, Triyanto
(2006) mengajukan tahapan yang perlu
ditempuh dalam penyiapan penguasaan
calon konselor terhadap teknologi
informasi ini, yaitu : pertama,
mengajak mahasiswa untuk memahami
pengoperasian komputer, disini
diperkenalkan konsep komputer mulai
dari istilah, perintah, cara kerja dan
konfigurasi yang digunakan. Kedua,
mengembangkan kemampuan
mahasiswa untuk bekerja dan
menganalisa masalah menggunakan
komputer. Konsep-konsep seperti basis
data (database), aplikasi tabel
(spreadsheet), untuk memecahkan
masalah mulai diperkenalkan. Ketiga,
dikenalkan konsep bermasyarakat
dengan komputer. Konsep-konsep
berdiskusi secara elektronik, tata cara
yang digunakan, serta kemungkinan
kerjasama secara elektronik.
ANALISIS
A.Analisis Teoretis
Sebagai salah satu profesi yang
memberikan layanan sosial atau
layanan kemanusiaan maka secara
sadar atau tidak keberadaan profesi
bimbingan konseling berhadapan
dengan perubahan realitas baik yang
menyangkut perubahan-perubahan
pemikiran, persepsi, demikian juga
nilai-nilai. Perubahan yang terus
menerus terjadi dalam kehidupan,
mendorong konselor perlu
mengembangkan awareness,
pemahaman, dan penerapannya dalam
perilaku serta keinginan untuk belajar,
dengan diikuti kemampuan untuk
membantu siswa memenuhi kebutuhan
yang serupa.
Konselor akan menjadi agen perubahan
serta pembelajar yang bersifat
kontinyu. Layanan Bimbingan dan
Konseling menjadi sangat penting
karena langsung berhubungan langsung
dengan siswa. Hubungan ini tentunya
akan semakin berkembang pada
hubungan siswa dengan siswa lain, guru
dan karyawan, orang tua / keluarga,
dan teman-teman lain di rumah.
Selanjutnya bagaimana pengaruhnya
dengan pembelajarannya di sekolah,
sosialisasi dengan teman, saudara baik
di sekolah dan di rumah. Dan tentu saja
dengan prestasinya di bidang akademik
dan non akademik.
Berarti layanan bimbingan dan
konseling harus didukung sistem yang
baik sehingga Layanan ini bisa
dilaksanakan dengan lebih
komprehensif. Dukungan layanan ini
dapat diperoleh dari tersedianya data
yang akurat yang sepertinya untuk saat
ini sangat tepat apabila data tersebut
didapatkan dari system komputerisasi.
Agar bisa bertahan dan diterima oleh
masyarakat, maka bimbingan dan
konseling harus dapat disajikan dalam
bentuk yang efisien dan efektif yatiu
dengan menggunakan ICT atau dengan
kata lain harus melibatkan teknologi
informasi, khususnya teknologi
informasi dalam bimbingan dan
konseling.
Dunia teknologi telah merajai dunia,
siapa yang menguasai teknologi maka
ia menguasai dunia. Nampaknya juga
BK harus mensinergiskan dengan
teknologi yang sedang berkembang.
Pesatnya komputer dan penyebarannya
ternyata tidak berbanding lurus dengan
perkembangan dunia konseling.
Berbagai masalah dan tantangan dalam
menggunakan ICT dalam dunia
konseling dapat dikemukakan oleh
pendapatnya Rahardjo (2000),
Hardhono (2002) dalam (Nurhudaya :
2005) antara lain :
1. Keragamaan teknologi
2. Kurang mampu membeli ICT
3. Kurang kesadaran akan ketepatan
penggunaan ICT
4. Informasi yang kurang komperhensif
5. Terlalu terikat dengan menu pokok
6. Keamanan
7. Kolaborasi.
Kompetensi yang dimiliki konselor
sekolah dalam menghadapi dunia
teknologi nampaknya masih jauh. Hal
ini dapat berakibat menjadi kultur
shock antara teknologi dan kemapuan
teknologi. Oleh karenanya konselor
harus memiliki skill yang siap
menghadapi konseli di dunia ICT ini.
Salah satu imbas teknologi informasi
dalam BK diantaranya pada
penyelenggaraan dukungan sistem.
Dukungan sistem dapat berupa sarana-
prasarana, sistem pendidikan, sistem
pengajaran, visi-misi sekolah dan lain
sebagainya. Berbicara sarana-
prasarana, memasuki dunia globalisasi
dengan pesatnya teknologi dan luasnya
informasi menuntut dunia konseling
untuk menyesuaikan dengan
lingkungannya agar memenuhi
kebutuhan masyarakat luas.
Oleh karenanya sekarang ini sedang
berkembang apa yang dinamakan
cyber-counseling. Pada hakikatnya
penggunaan cyber-counseling
merupakan salah satu pemanfaatan IT
dalam dunia bimbingan dan konseling.
Strategi layanan konseling yang harus
diperhatikan dalam pelayanan
konseling pada era globalisasi yaitu
penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi, dan pendekatan lintas
budaya. Berkaitan dengan penggunaan
teknologi informasi dan komunikasi
(ICT) perlu dikolaborasikan dengan
bimbingan dan konseling.
Penggunaan ICT dalam konseling
mengarah pada pengembangan media
konseling. Selain dapat dilakukan
melalui tatap muka, konseling dapat
dilakukan secara jarak jauh. Beberapa
diantaranya sebagai berikut.
1. Konseling melalui telepon
2. Konseling melalui video-phone
3. Konseling melalui radio atau televise
4. Konseling berbantuan computer
5. Konseling melalui internet
6. Konseling melalui surat magnetik
(disket ke disket)
Hines (2002) mengemukakan beberapa
kompetensi yang harus dimiliki
konselor berkenaan dengan ICT yaitu
hendaknya konselor (Nurhudaya :
2005):
1. Menjadi konsumen ICT yang faham
dan terampil
2. Familiar akan kecenderungan
penggunaan ICT dalam bidang
pendidikan
3. Dapat menggunakan berbagai sumber
teknologi.
4. Mampu mengembangkan rencana
penggunaan teknologi untuk pelayanan
BK
5. Dapat mendesain, menciptakan dan
mengevaluasi suatu program interaktif.
6. Memahami implikasi legal dan etis
dari penggunaan teknologi.
7. Mampu menggunakan teknologi
secara efektif guna mengelola data
siswa
8. Mampu menggunakan teknologi
sebagai alat
Salah satu kendala lainnya berkaitan
dengan penerapan sistem teknologi
informasi dalam bimbingan dan
konseling adalah masalah aksesibilitas,
baik fisik maupun kemampuan dalam
memanfaatkan dan menggunakan TI
untuk bimbingan dan konseling.
B.Analisis Praktis
Tidak dapat disangkal bahwa saat ini
kita hidup dalam dunia teknologi.
Hampir seluruh sisi kehidupan kita
bergantung pada kecanggihan teknologi,
terutama teknologi komunikasi. Bahkan,
menurut Pelling (2002) ketergantungan
kepada teknologi ini tidak saja di
kantor, tetapi sampai di rumah-rumah.
Konseling sebagai usaha bantuan
kepada siswa, saat ini telah mengalami
perubahan-perubahan yang sangat
cepat. Perubahan ini dapat ditemukan
pada bagaimana teori-teori konseling
muncul sesuai dengan kebutuhan
masyarakat atau bagaimana media
teknologi bersinggungan dengan
konseling. TI dalam konseling antara
lain adalah komputer dan perangkat
audio visual.
Manfaat TI dalam BK
Komputer merupakan salah satu media
yang dapat dipergunakan oleh konselor
dalam proses konseling. Pelling (2002)
menyatakan bahwa penggunaan
komputer (internet) dapat
dipergunakan untuk membantu siswa
dalam proses pilihan karir sampai pada
tahap pengambilan keputusan pilihan
karir. Hal ini sangat memungkinkan,
karena dengan membuka internet,
maka siswa akan dapat melihat banyak
informasi atau data yang dibutuhkan
untuk menentukan pilihan studi lanjut
atau pilihan karirnya.
Manfaat penggunaan komputer
(internet) adalah:
1.Pemanfaatan internet untuk survei,
studi eksplorasi, mencari data,
informasi atau dokumen elektronik
yang berharga, dll.
2.Pemakaian email dan messaging
dengan memperhatikan etika.
3. Publikasi pengumuman, makalah,
materi ajar, program aplikasi gratis,
data, dll. Yang dinilai bermanfaat bagi
masyarakat luas pada situs web
(website).
4.Penyelenggaraan kompetisi ilmiah,
seni, ketangkasan secara on line yang
bernilai positif bagi masyarakat luas.
Data-data yang didapat melalui
internet, dapat dianggap sebagai data
yang dapat dipertanggungjawabkan dan
masuk akal (Pearson, dalam Pelling
2002; Hohenshill, 2000). Data atau
informasi yang didapat melalui internet
adalah data-data yang sudah memiliki
tingkat validitas tinggi. Hal ini sangat
beralasan, karena data yang ada di
internet dapat dibaca oleh semua orang
di muka bumi. Sehingga kecil
kemungkinan jika data yang
dimasukkan berupa data-data sampah.
Sebagai contoh, saat ini dapat kita lihat
di internet tentang profil sebuah
perguruan tinggi. Bahkan, informasi
yang didapat tidak sebatas pada
perguruan tinggi saja, tetapi bisa
sampai masing-masing program studi
dan bahkan sampai pada kurikulum
yang dipergunakan oleh masing-masing
program studi. Data-data yang didapat
oleh siswa pada akhirnya menjadi suatu
dasar pilihan yang dapat
dipertanggungjawabkan. Tentu saja,
pendampingan konselor sekolah dalam
hal ini sangat diperlukan.
Sampsons (2000) mengungkapkan
bahwa fasilitas di internet dapat dapat
dipergunakan untuk melakukan testing
bagi siswa. Tentu saja hal ini harus
didasari pada kebutuhan siswa.
Penggunaan komputer di kelas sebagai
media bimbingan dan konseling akan
memiliki beberapa keuntungan seperti
yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai
berikut:
1. Akan meningkatkan kreativitas,
meningkatkan keingintahuan dan
memberikan variasi pengajaran,
sehingga kelas akan menjadi lebih
menarik;
2. Akan meningkatkan kunjungan ke
web site, terutama yang berhubungan
dengan kebutuhan siswa;
3. Konselor akan memiliki pandangan
yang baik dan bijaksana terhadap
materi yang diberikan;
4. Akan memunculkan respon yang
positif terhadap penggunaan email;
5. Tidak akan menimbulkan kebosanan;
6. Dapat ditemukan silabus, kurikulum
dan lain sebagainya melalui website;
dan
7. Terdapat pengaturan yang baik
Selain penggunaan internet seperti yang
telah diuraikan di atas, dapat
dipergunakan pula software seperti
microsoft power point. Software ini
dapat membantu konselor dalam
menyambaikan bahan bimbingan
secara lebih interaktif. Konselor
dituntut untuk dapat menyajikan bahan
layanan dengan mempergunakan
imajinasinya agar bahan layanannya
tidak membosankan.
Program software power point
memberikan kesempatan bagi konselor
untuk memberikan sentuhan-sentuhan
seni dalam bahan layanan informasi.
Melalui program ini, yang ditayangkan
tidak saja berupa tulisan-tulisan yang
mungkin sangat membosankan, tetapi
dapat juga ditampilkan gambar-gambar
dan suara-suara yang menarik yang
tersedia dalam program power point.
Melalui fasilitas ini, konselor dapat pula
memasukkan gambar-gambar di luar
fasilitas power point, sehingga sasaran
yang akan dicapai menjadi lebih
optimal.
Gambar-gambar yang disajikan melalui
program power point tidak statis seperti
yang terdapat pada Over Head Projector
(OHP). Konselor dapat memasukkan
gambar-gambar yang bergerak, bahkan
konselor bisa melakukan insert gambar-
gambar yang ada di sebuah film.
Media lain yang dapat dipergunakan
dalam proses bimbingan dan konseling
di kelas antara lain adalah VCD/DVD
player. Peralatan ini seringkali
dipergunakan oleh konselor untuk
menunjukkan perilaku-perilaku
tertentu. Perilaku-perilaku yang tampak
pada tayangan tersebut dipergunakan
oleh konselor untuk merubah perilaku
klien yang tidak diinginkan (Alssid &
Hitchinson, 1977; Ivey, 1971, dalam
Baggerly 2002). Dalam proses
pendidikan konselor pun, penggunaan
video modeling ini juga dipergunakan
untuk meningkatkan keterampilan dan
prinsip konseling yang akan
dikembangkan bagi calon konselor
(Koch & Dollarhide, 2000, dalam
Baggerly, 2002).
Sebelum VCD/DVD player ini
ditayangkan, seorang konselor
sebaiknya memberikan arahan terlebih
dahulu kepada siswa tentang alasan
ditayangkannya sebuah film. Hal ini
sangat penting, sebab dengan memiliki
gambaran dan tujuan film tersebut
ditayangkan, maka siswa akan memiliki
kerangka berpikir yang sama. Setelah
film selesai ditayangkan, maka konselor
meminta siswa untuk memberikan
tanggapan terhadap apa yang telah
mereka lihat. Tanggapan-tanggapan ini
pada akhirnya akan mempengaruhi
bagaimana klien berpikir dan bersikap,
yang kemudian diharapkan akan dapat
merubah perilaku klien atau siswa.
Media E-learning, adalah metode
belajar mengajar baru yang
menggunakan media jaringan komputer
dan Internet, tersampaikannya bahan
ajar (konten) melalui media elektronik,
otomatis bentuk bahan ajar juga dalam
bentuk elektronik (digital), dan adanya
sistem dan aplikasi elektronik yang
mendukung proses belajar mengajar.
Manfaat dari E-learning adalah:
1.Pembelajaran dari mana dan kapan
saja (time and place flexibility).
2.Bertambahnya Interaksi
pembelajaran antara peserta didik
dengan guru atau instruktur
(interactivity enhancement).
3.Menjangkau peserta didik dalam
cakupan yang luas (global audience).
4.Mempermudah penyempurnaan dan
penyimpanan materi pembelajaran
(easy updating of content as well as
archivable capabilities).
Kerugian TI dalam BK
Pelling (2002) menyatakan bahwa,
walaupun saat ini masyarakat sangat
tergantung pada teknologi, tetapi di lain
pihak, masih banyak diantara kita yang
mengalami ketakutan untuk
mempergunakan teknologi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian
besar masyarakat kita masih percaya
bahwa pernyataan-pernyataan yang
diberikan oleh orang tua atau orang
yang dituakan masih dianggap lebih
baik. Hal ini tidak lepas dari budaya
paternalistik yang melingkupi
masyarakat kita.
Sebaik apapun teknologi yang
berkembang, tetapi jika pola pikir
masyarakat masih terkungkung dengan
nilai-nilai yang diyakini benar, maka
data atau informasi yang didapat
seakan-akan menjadi tidak berguna.
Sebagai contoh, seorang siswa akan
memilih jurusan di perguruan tinggi.
Mungkin mereka akan mencari
informasi sebanyak mungkin, dan
konselor akan memfasilitasi keinginan
mereka. Tetapi, pada saat mereka
dihadapkan untuk menentukan dan
memilih jurusan yang akan diambil,
maka tidak jarang dari mereka akan
berkata, “Saya senang dengan jurusan
A, tetapi nanti tergantung pada orang
tua saya”. Contoh lain, saat ini
perkembangan teknologi sudah
berkembang dengan demikian pesat.
Tiap manusia dapat berkomunikasi
tanpa dibatasi rentang ruang dan
waktu. Tetapi dalam budaya tertentu,
alat komunikasi ini bisa menjadi “tidak
bermanfaat”. Restu orang tua
merupakan hal yang dianggap sakral
oleh sebagian budaya tertentu, bahkan
meminta restu ini akan lebih afdol jika
dilakukan dengan melakukan sungkem.
Untuk menunjukkan perilaku ini, maka
seringkali mereka melupakan
kecanggihan piranti komunikasi yang
sudah canggih, walau jarak yang
ditempuh untuk mendatangi orang tua
relatif jauh.
Hal lain yang terkait dengan
penggunaan media dalam bimbingan
dan konseling adalah sasaran pengguna
seringkali disamakan. Walaupun ragam
media sudah bermacam-macam, tetapi
media ini seringkali masih belum bisa
menyentuh sisi afektif seseorang. Dalam
bimbingan dan konseling dikenal istilah
empati. Penggunaan media, seringkali
pula akan “menghilangkan” empati
konselor, jika konselor mempergunakan
media sebagai alat bantu utama.
Klien datang ke ruang konseling tidak
selalu membutuhkan informasi dari
internet atau komputer, bahkan ada
kemungkinan klien atau siswa datang
ke ruang konseling juga tidak
membutuhkan bantuan dari konselor
secara langsung melalui proses
konseling. Tetapi adakalanya, siswa
atau klien datang ke ruang konseling
hanya ingin mendapatkan senyuman
dari konselor atau penerimaan tanpa
syarat dari konselor.
Sebagai benda mati, peralatan teknologi
yang ada saat ini hanya bisa
bermanfaat jika dimanfaatkan oleh
mereka yang memahami penggunaan
masing-masing alat tersebut. Artinya
penggunaan teknologi ini akan
memunculkan efek yang baik jika
dijalankan oleh mereka yang paham
peralatan tersebut. Sebaliknya,
peralatan ini akan memberikan dampak
negatif jika pelaksananya tidak
memahami dampak yang akan
ditimbulkan. Banyak contoh kasus
dampak negatif penyalahgunaan
teknologi informasi seperti beredarnya
rekaman video porno di ponsel,
beredarnya video porno bajakan yang
dilakukan oleh anak negeri dan lain
sebagainya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pemanfaatan TI yang negatif adalah:
• Memberikan account pribadi kepada
orang lain dengan tujuan agar orang
tersebut dapat membantu mengerjakan
tugas-tugas kuliah yang seharusnya
dikerjakan sendiri.
• Men- download data berukuran sangat
besar (misalnya video) yang tidak ada
kaitannya sama sekali dengan materi
pembelajaran, sehingga “memadati”
lalu-lintas jaringan dan mengganggu
pengguna jaringan yang lain.
• Bermain online game (via internet)
yang tidak ada kaintannya dengan
materi atau kegiatan pembelajaran.
• Mengakses (men- download) maupun
mempublikasikan tulisan, gambar,
suara, video, dll. yang asusila (porno)
atau tidak etis.
• Mempublikasikan hasil karya orang
lain dengan melanggar hak cipta.
BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A.Kesimpulan
Sistem teknologi informasi saat ini telah
berkembang dengan sangat pesat sesuai
dengan perkembangan zaman dan
kebutuhan manusia yang semakin
meningkat. Dengan adanya kemajuan
teknologi informasi tersebut, manusia
dengan mudah dapat mengakses
informasi dari belahan dunia manapun
dengan sangat cepat sehingga
kebutuhan manusiapun menjadi
semakin cepat terpenuhi.
Kemajuan teknologi informasi tersebut
juga sangat bermanfaat dalam bidang
pendidikan. Bimbingan dan konseling
sebagai salah satu aspek dalam
pendidikan juga merasakan manfaat
dari kemajuan teknologi informasi
tersebut. Aplikasi yang sangat nyata
adalah proses layanan bimbingan dan
konseling sudah tidak harus dengan
bertatap muka, melainkan bisa dengan
menggunakan media informasi baik itu
telepon maupun internet, tetapi semua
itu bukan tanpa masalah. Banyak sekali
hambatan yang menjadi duri bagi
kemajuan dunia bimbingan dan
konseling. Salah satunya adalah sumber
daya manusianya yang belum bisa
memanfaatkan dengan baik kemajuan
teknologi informasi tersebut sehingga
perlu sosialisasi kepada konselor
maupun kepada konseli agar kedua
belah pihak bisa sama-sama
memanfaatkan media teknologi
informasi yang sudah maju.
B.Rekomendasi
Kemajuan teknologi informasi tidak
selamanya berdampak baik bagi
individu. Dalam proses bimbingan dan
konseling masih banyak yang belum
mengetahui pemanfaatan media
teknologi informasi untuk menunjang
layanan bimbingan dan konseling.
Konselor sekolah tidak semuanya
mengerti atau paham tentang
pengguanaan internet. Padahal internet
merupakan media yang sangat efektif
dalam proses layanan bimbingan dan
konseling. Untuk itu, perlu adanya
suatu sosialisasi untuk meningkatkan
kinerja konselor di sekolah dalam hal
memanfaatkan kemajuan teknologi
informasi agar nantinya bidang
bimbingan dan konseling tidak lagi
menjadi bidang layanan yang
membosankan dan menjenuhkan. Tidak
hanya konselor yang perlu diberikan
sosialisasi. Para konseli yang dalam hal
ini adalah siswa juga perku diberikan
suatu sosialisasi agar kemajuan
teknologi informasi tersebut bisa
dimanfaatkan sesuai apa yang
diharapkan. Dengan kata lain, teknologi
informasi tersebut tidak disalahgunakan
untuk hal yang negatif.
Jika konselor dan konseli sudah paham
akan manfaat dan pentingnya teknologi
informasi dalam menunjang proses
layanan bimbingan dan konseling,
maka ke depannya bimbingan dan
konseling akan menjadi suatu bidang
pendidikan yang inovatif dan efisien
berkat kemajuan teknologi informasi
namun tetap tidak menghilangkan
esensi dari layanan bimbingan dan
konseling itu sendiri.